Sabtu, 03 Agustus 2013

Tujuan Pendidikan Islam

TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas:
Mata kuliah: Hadits Tarbawi
Dosen pengampu : Drs. H. Rifa’i, M.A







Oleh: 
  Laila Zulfa                   (2021111238)
  Mushofihati NM          (2021111240)

Kelas : F

JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2012


PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan hal yang penting bagi manusia untuk menghadapi kelangsungan hidupnya hingga masa depan. Pendidikan dituntut untuk dapat mengantarkan manusia pada kehidupan yang sesungguhnya. Pendidikan yang dikenal dewasa ini tidak hanya mencakup secara umum tetapi juga spesifik kepada pendidikan islam. Dimana pendidikan islam dituntut untuk dapat mencetak generasi-generasi penerus yang handal baik dalam ilmu pendidikan umum maupun agama.
Sebelum kita membahas tentang pendidikan secara spesifik tentulah kita harus mengetahui apa itu yang dinamakan pendidikan islam, dasar serta tujuan dari pendidikan islam dalam ranah pendidikan yang berkembang sekarang ini. Demikianlah makalah hadits tarbawi ini kami buat dan sekiranya ada kekurangan yang terdapat dalam makalah ini kami mohon ma'af dan kami siap menerima kritikan sehat yang sifatnya membangun terutama dari Bapak/ Ibu Dosen dan kepada sahabat-sahabati yang membaca makalah ini. Kami berharap setelah membaca makalah yang sederhana ini kita dapat memetik ilmu dan menambah wawasan kita semua.









PEMBAHASAN
A.      Tujuan Pendidikan Islam



Artinya:
“Dari Anas berkata, sesungguhnya Rasulullah saw memperbanyak doa : “Ya Allah, berilah kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari azab api neraka”.[1]

1.      Pengertian Tujuan pendidikan
           Tujuan adalah batas akhir yang dicita-citakan seseorang dan dijadikan pusat perhatiannya untuk dicapai melalui usaha. Dalam tujuan terkandung cita-cita , kehendak, dan kesengajaan, serta berkonsekuensi penyusunan daya upaya untuk mencapainya.[2]
           Sedangkan tujuan pendidikan adalah batas akhir yang dicita-citakan dan tercapai melalui suatu usaha pendidikan.[3] Tujuan pendidikan ditentukan oleh pendidik sebagai orang yang mengarahkan proses pendidikan. Karenanya, tujuan pendidikan berkaitan erat dengan nilai – nilai yang dijunjung tinggi oleh pendidik di dalam hidupnya.[4]
           Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibani mengemukakan bahwa tujuan pendidikan islam memiliki empat cirri pokok yang paling menonjol yaitu:
a.       Sifat yang bercorak agama dan akhlak.
b.      Sifat komprehensif (keseluruhan) yang mencakup segala aspek pribadi pelajar (subjek didik), dan semua aspek perkembangan masyarakat.
c.       Sifat keseimbangan, kejelasan, tidak adanya pertentangan antara unsur – unsur dan cara pelaksanaannya. sifat realistik dan dapat dilaksanakan, penekanan dan perubahanyang dikehendaki pada tingkah laku dan pada kehidupan, memperhitungkan perbedaan – perbedaan perorangan di antara individu, masyarakat dan kebudayaan dimana-mana dan kesanggupan untuk berubah dan berkembang bila diperlukan.[5]
          
2.      Tujuan Pendidikan Islam
           Dilihat dari Ilmu Pendidikan Teoritis, tujuan pendidikan ditempuh secara bertingkat. Misalnya tujuan intermediet (sementara atau antara), yang dijadikan batas sasaran kemampuan yang harus dicapai dalam proses pendidikan pada tingkat tertentu untuk mencapai tujuan akhir.
           Dan berbagai tingkat tujuan pendidikan yang dirumuskan secara teoritis itu bertujuan untuk memudahkan proses kependidikan melalui tahapan yang makin meningkat (progresif) kearah tujuan umum atau tujuan akhir.[6]
a.        Pendapat para ulama dan ahli pendidikan islam mengenai tujuan pendidikan islam.
Dr. M. Nasir Budiman mengklasifikasikan tujuan pendidikan Islam dilihat dari segi komponennya menjadi tiga macam:
1.    Tujuan Normatif
Tujuan yang ingin dicapai berdasarkan norma-norma atau nilai-nilai yang hendak diinternalisasi, misalnya:
a.       Tujuan normative yang bersifat memberi persiapan dasar yang korektif.
b.      Tujuan selektif yang bersifat memberi kemampuan untuk membedakan hal-hal yang benar dan salah.
c.       Tujuan determinative yang bersifat memberi kemampuan untuk mengarahkan diri pada sasaran-sasaran yang sejajar dengan proses kependidikan.
d.      Tujuan integrative yang bersifat memberi kemampuan untuk memadukan fungsi psikis (pikiran, perasaan, kemampuan, ingatan, dan nafsu) ke arah tujuan akhir.
e.       Tujuan aplikatif yang memberi kemampuan penerapan segala pengetahuan  yang telah diperoleh dalam pengalaman pendidikan.

2.    Tujuan Fungsional
Tujuan fungsional ini diarahkan kepada pencapaian kemampuan untuk mengamalkan daya kognitif, afektif, dan psikomotorik dari hasil proses pendidikan. Tujuan ini meliputi:
a.    Tujuan individual yang sasarannya pada pemberian kemampuan individu untuk mengamalkan nilai-nilai yang telah diinternalisasikan ke dalam pribadi berupa akhlak, intelektualitas, dan amal sholeh.
b.    Tujuan social yang sasarannya pada pemberian kemampuan pengalaman nilai-nilai ke dalam kehidupan social, interpersonal, dan interaksional dengan orang lain dalam masyarakat.
c.    Tujuan akhlak yang sasarannya pada pemberian kemampuan untuk berperilaku sesuai dengan tuntunan akhlak al-karimah.
d.   Tujuan operasionalyang sasarannya pada pemberian kemampuan untuk mengamalkan keahliannya dan sesuai dengan kompetensinya.

3.    Tujuan Operasional
Tujuan operasioanl ini cenderung bersifat manajerial.
a.    Tujuan umum. Tujuan ini mengupayakan agar menjadi Insal Kamil, yaitu menusia yang dapat menunjukkan keselarasan dan keharmonisan antara jasmani dan rohani, antara individu, Tuhan, masyarakat, dan alam sekitarnya.
b.    Tujuan Khusus. Tujuan ini sebagai indikasi tercapainya tujuan umum, yaitu tujuan pendidikan yang disesuaikan dengan keadaan tertentu, baik yang berkaitan dengan cita-cita pembangunan suatu bangsa, tugas suatu badan atau lembaga pendidikan, atau bakat kemampuan subyek didik.[7]

Adapun Abdurrahman Saleh Abdullah, dalam buku Educational Theory A qur’anic Outlook, menyatakan bahwa tujuan pendidikan islam dapat diklasifikasikan menjadi empat macam, yaitu:
1.    Tujuan pendidikan jasmani (ahdaf al-jismiyah)
     Yaitu mempersiapkan diri manusia sebagai pengemban tugas khalifah di muka bumi, melalui pelatihan keterampilan-keterampilan fisik. Ia mengacu pada pendapat imam an-Nawawi (676 H) yang menafsirkan al-Qawiyy sebagai kekuatan iman yang ditopang oleh kekuatan fisik.
2.    Tujuan pendidikan rohani (ahdaf ar- Ruhaniyyah)
     Yaitu meningkatkan kesetiaan hanya kepada Allah semata dan mengaktualisasikan akhlakul karimah dengan meneladani Rasulullah Saw, dalam konteks inilah pendidikan disebut tazkiyah an-nafs.
3.    Tujuan pendidikan akal (ahdaf al- ‘aqliyyah)
     Yaitu pengarahan intelegensi untuk menemukan kebenaran dan sebab-sebabnya dengan tanda-tanda kekuasaan Allah dan menemukan pesan-pesan ayat-ayat-Nya yang mengantarkan pada iman kepada Maha Pencipta, yaitu Allah.
4.    Tujuan pendidikan sosial (ahdaf al-ijtima ‘iyyah)
     Yaitu pembentukan yang utuh dari roh, tubuh, dan pembentukan kepribadian yang utuh dari roh, tubuh, dan akal. Identitas ini tercermin sebagai an-Nas yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang plural (majemuk).[8]

            Nahlawi (1963:67) menunjukkan empat tujuan umum pendidikan islam, yaitu:
1.      Pendidikan akal dan persiapan pikiran.
2.      Menumbuhkan potensi – potensi dan bakat – bakat pada anak.
3.      Menaruh perhatian pada kekuatan dan potensi generasi muda dan mendidik mereka sebaik – baiknya.
4.      Berusaha untuk menyeimbangkan segala potensi – potensi dan bakat – bakat manusia.[9]

b.        Tujuan akhir pendidikan islam
             Tujuan akhir ialah tujuan yang hendak dicapai oleh pendidik terhadap peserta didik melalui seluruh proses pendidikan. Para ahli pendidikan islamtelah mengemukakan tujuan akhir pendidikan islam dalam redaksi yang berbeda-beda.
c.         Imam al-Ghazȃl berpendapat bahwa tujuan pendidikan ialah kesempurnaan insane di dunia dan di akhirat. Manusia dapat mencapai kesempurnaan melalui pencarian keutamaan dengan menggunakan ilmu. Keutamaan itu akan memberinya kebahagiaan di dunia serta mendekatkannya kepada Allah, sehingga dia akan mendapatkan pula kebahagiaan di akhirat.
d.        Muhammad Munir Mursa mengemukakan bahwa tujuan terpenting pendidikan islam ialah tercapainya kesempurnaan insane, karena islam sendiri merupakan manifestasi tercapainya kesempurnaan agamawi, sebagaimana ditegaskan di dalam firman Allah berikut ini:


“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk akmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu. (Q.S. Al-Maidah:3)
e.         Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi berpendapat bahwa tujuan tertinggi pendidikan islam akhlak yang sempurna atau keutamaan.
f.          Menurut pendapat Abdul Fattah Jalal, tujuan akhir pendidikan islam ialah menjadikan manusia sebagai abdi atau hamba Allah swt. pendapat ini dikemukakan juga oleh ‘Abdurrahman An-Nahlawi.[10]

KESIMPULAN

            Tujuan pendidikan adalah batas akhir yang dicita-citakan dan tercapai melalui suatu usaha pendidikan. Tujuan pendidikan ditentukan oleh pendidik sebagai orang yang mengarahkan proses pendidikan. Karenanya, tujuan pendidikan berkaitan erat dengan nilai – nilai yang dijunjung tinggi oleh pendidik di dalam hidupnya
Dr. M. Nasir Budiman mengklasifikasikan tujuan pendidikan Islam dilihat dari segi komponennya menjadi tiga macam, yaitu: tujuan Normatif, tujuan Fungsional, dan tujuan Operasional.
Adapun Abdurrahman Saleh Abdullah, dalam buku Educational Theory A qur’anic Outlook, menyatakan bahwa tujuan pendidikan islam dapat diklasifikasikan menjadi empat macam, yaitu: Tujuan pendidikan jasmani (ahdaf al-jismiyah), Tujuan pendidikan rohani (ahdaf ar- Ruhaniyyah), Tujuan pendidikan akal (ahdaf al- ‘aqliyyah), Tujuan pendidikan sosial (ahdaf al-ijtima ‘iyyah)















DAFTAR PUSTKA

Abdullah, Abd. Rahman, 2002,  Aktualisasi Konsep Dasar Pendidikan Islam, Jogjakarta: UII Press.
Arifin, M, 1996, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.
Sabran, Dja’far Risalah Do’a, Bandung: P.P.,, Assegaff
Noer Aly, Hery, 1999,  Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Logos.
Uhbiyati, Nur, 1999, Ilmu Pendidikan Islam II, Bandung: CV. Pustaka Setia.
Wjidi Sayadi, 2011, Hadits Tarbawi, Jakarta: PT.Pustaka Firdaus.


[1] Dja’far Sabran, Risalah Do’a, (Bandung: P.P.,, Assegaff. Tanpa tahun) hlm. 177.
[2] Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999) hlm.51
[3] Ibid., h.53
[4] Ibid., h. 55
[5] Abd. Rahman Abdullah, Aktualisasi Konsep Dasar Pendidikan Islam, (Jogjakarta: UII Press, 2002) hlm. 43 - 44
[6] M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996) hlm. 38-39
[7] Wjidi Sayadi, Hadits Tarbawi, ( Jakarta: PT.Pustaka Firdaus, 2011) hlm17-19
[8] Ibid., h.20
[9] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam II, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1999) hlm.51
[10] Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999) hlm.76-78