TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas:
Mata kuliah: Hadits Tarbawi
Dosen pengampu : Drs. H. Rifa’i, M.A

Oleh:
Laila Zulfa (2021111238)
Mushofihati NM (2021111240)
Kelas
: F
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)
PEKALONGAN
2012
PENDAHULUAN
Pendidikan
merupakan hal yang penting bagi manusia untuk menghadapi kelangsungan hidupnya
hingga masa depan. Pendidikan dituntut untuk dapat mengantarkan manusia pada
kehidupan yang sesungguhnya. Pendidikan yang dikenal dewasa ini tidak hanya
mencakup secara umum tetapi juga spesifik kepada pendidikan islam. Dimana
pendidikan islam dituntut untuk dapat mencetak generasi-generasi penerus yang
handal baik dalam ilmu pendidikan umum maupun agama.
Sebelum
kita membahas tentang pendidikan secara spesifik tentulah kita harus mengetahui
apa itu yang dinamakan pendidikan islam, dasar serta tujuan dari pendidikan
islam dalam ranah pendidikan yang berkembang sekarang ini. Demikianlah makalah hadits tarbawi ini kami buat dan sekiranya ada
kekurangan yang terdapat dalam makalah ini kami mohon ma'af dan kami siap
menerima kritikan sehat yang sifatnya membangun terutama dari Bapak/ Ibu Dosen
dan kepada sahabat-sahabati yang membaca makalah ini. Kami berharap setelah
membaca makalah yang sederhana ini kita dapat memetik ilmu dan menambah wawasan
kita semua.
PEMBAHASAN
A.
Tujuan Pendidikan Islam
Artinya:
“Dari
Anas berkata, sesungguhnya Rasulullah saw memperbanyak doa : “Ya Allah, berilah
kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari
azab api neraka”.[1]
1.
Pengertian Tujuan pendidikan
Tujuan adalah batas akhir yang
dicita-citakan seseorang dan dijadikan pusat perhatiannya untuk dicapai melalui
usaha. Dalam tujuan terkandung cita-cita , kehendak, dan kesengajaan, serta
berkonsekuensi penyusunan daya upaya untuk mencapainya.[2]
Sedangkan tujuan pendidikan adalah
batas akhir yang dicita-citakan dan tercapai melalui suatu usaha pendidikan.[3]
Tujuan pendidikan ditentukan oleh pendidik sebagai orang yang mengarahkan
proses pendidikan. Karenanya, tujuan pendidikan berkaitan erat dengan nilai –
nilai yang dijunjung tinggi oleh pendidik di dalam hidupnya.[4]
Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibani
mengemukakan bahwa tujuan pendidikan islam memiliki empat cirri pokok yang
paling menonjol yaitu:
a.
Sifat
yang bercorak agama dan akhlak.
b.
Sifat
komprehensif (keseluruhan) yang mencakup segala aspek pribadi pelajar (subjek
didik), dan semua aspek perkembangan masyarakat.
c.
Sifat
keseimbangan, kejelasan, tidak adanya pertentangan antara unsur – unsur dan
cara pelaksanaannya. sifat realistik dan dapat dilaksanakan, penekanan dan
perubahanyang dikehendaki pada tingkah laku dan pada kehidupan, memperhitungkan
perbedaan – perbedaan perorangan di antara individu, masyarakat dan kebudayaan
dimana-mana dan kesanggupan untuk berubah dan berkembang bila diperlukan.[5]
2.
Tujuan Pendidikan Islam
Dilihat dari Ilmu Pendidikan
Teoritis, tujuan pendidikan ditempuh secara bertingkat. Misalnya tujuan intermediet
(sementara atau antara), yang dijadikan batas sasaran kemampuan yang harus
dicapai dalam proses pendidikan pada tingkat tertentu untuk mencapai tujuan
akhir.
Dan berbagai tingkat tujuan
pendidikan yang dirumuskan secara teoritis itu bertujuan untuk memudahkan
proses kependidikan melalui tahapan yang makin meningkat (progresif) kearah
tujuan umum atau tujuan akhir.[6]
a.
Pendapat para ulama dan ahli pendidikan islam mengenai tujuan
pendidikan islam.
Dr. M. Nasir Budiman mengklasifikasikan tujuan pendidikan Islam
dilihat dari segi komponennya menjadi tiga macam:
1.
Tujuan
Normatif
Tujuan
yang ingin dicapai berdasarkan norma-norma atau nilai-nilai yang hendak
diinternalisasi, misalnya:
a.
Tujuan
normative yang bersifat memberi persiapan dasar yang korektif.
b.
Tujuan
selektif yang bersifat memberi kemampuan untuk membedakan hal-hal yang benar
dan salah.
c.
Tujuan
determinative yang bersifat memberi kemampuan untuk mengarahkan diri pada
sasaran-sasaran yang sejajar dengan proses kependidikan.
d.
Tujuan
integrative yang bersifat memberi kemampuan untuk memadukan fungsi psikis
(pikiran, perasaan, kemampuan, ingatan, dan nafsu) ke arah tujuan akhir.
e.
Tujuan
aplikatif yang memberi kemampuan penerapan segala pengetahuan yang telah diperoleh dalam pengalaman
pendidikan.
2.
Tujuan
Fungsional
Tujuan
fungsional ini diarahkan kepada pencapaian kemampuan untuk mengamalkan daya
kognitif, afektif, dan psikomotorik dari hasil proses pendidikan. Tujuan ini
meliputi:
a.
Tujuan
individual yang sasarannya pada pemberian kemampuan individu untuk mengamalkan
nilai-nilai yang telah diinternalisasikan ke dalam pribadi berupa akhlak,
intelektualitas, dan amal sholeh.
b.
Tujuan
social yang sasarannya pada pemberian kemampuan pengalaman nilai-nilai ke dalam
kehidupan social, interpersonal, dan interaksional dengan orang lain dalam
masyarakat.
c.
Tujuan
akhlak yang sasarannya pada pemberian kemampuan untuk berperilaku sesuai dengan
tuntunan akhlak al-karimah.
d.
Tujuan
operasionalyang sasarannya pada pemberian kemampuan untuk mengamalkan
keahliannya dan sesuai dengan kompetensinya.
3.
Tujuan
Operasional
Tujuan
operasioanl ini cenderung bersifat manajerial.
a.
Tujuan
umum. Tujuan ini mengupayakan agar menjadi Insal Kamil, yaitu menusia yang
dapat menunjukkan keselarasan dan keharmonisan antara jasmani dan rohani, antara
individu, Tuhan, masyarakat, dan alam sekitarnya.
b.
Tujuan
Khusus. Tujuan ini sebagai indikasi tercapainya tujuan umum, yaitu tujuan
pendidikan yang disesuaikan dengan keadaan tertentu, baik yang berkaitan dengan
cita-cita pembangunan suatu bangsa, tugas suatu badan atau lembaga pendidikan,
atau bakat kemampuan subyek didik.[7]
Adapun Abdurrahman Saleh Abdullah, dalam buku Educational Theory
A qur’anic Outlook, menyatakan bahwa tujuan pendidikan islam dapat
diklasifikasikan menjadi empat macam, yaitu:
1.
Tujuan
pendidikan jasmani (ahdaf al-jismiyah)
Yaitu mempersiapkan diri
manusia sebagai pengemban tugas khalifah di muka bumi, melalui pelatihan
keterampilan-keterampilan fisik. Ia mengacu pada pendapat imam an-Nawawi (676
H) yang menafsirkan al-Qawiyy sebagai kekuatan iman yang ditopang oleh
kekuatan fisik.
2.
Tujuan
pendidikan rohani (ahdaf ar- Ruhaniyyah)
Yaitu meningkatkan
kesetiaan hanya kepada Allah semata dan mengaktualisasikan akhlakul karimah
dengan meneladani Rasulullah Saw, dalam konteks inilah pendidikan disebut tazkiyah
an-nafs.
3.
Tujuan
pendidikan akal (ahdaf al- ‘aqliyyah)
Yaitu pengarahan intelegensi
untuk menemukan kebenaran dan sebab-sebabnya dengan tanda-tanda kekuasaan Allah
dan menemukan pesan-pesan ayat-ayat-Nya yang mengantarkan pada iman kepada Maha
Pencipta, yaitu Allah.
4.
Tujuan
pendidikan sosial (ahdaf al-ijtima ‘iyyah)
Yaitu pembentukan yang
utuh dari roh, tubuh, dan pembentukan kepribadian yang utuh dari roh, tubuh,
dan akal. Identitas ini tercermin sebagai an-Nas yang hidup di tengah-tengah
masyarakat yang plural (majemuk).[8]
Nahlawi (1963:67)
menunjukkan empat tujuan umum pendidikan islam, yaitu:
1.
Pendidikan
akal dan persiapan pikiran.
2.
Menumbuhkan
potensi – potensi dan bakat – bakat pada anak.
3.
Menaruh
perhatian pada kekuatan dan potensi generasi muda dan mendidik mereka sebaik –
baiknya.
4.
Berusaha
untuk menyeimbangkan segala potensi – potensi dan bakat – bakat manusia.[9]
b.
Tujuan akhir pendidikan islam
Tujuan akhir ialah tujuan yang hendak dicapai
oleh pendidik terhadap peserta didik melalui seluruh proses pendidikan. Para
ahli pendidikan islamtelah mengemukakan tujuan akhir pendidikan islam dalam
redaksi yang berbeda-beda.
c.
Imam
al-GhazȃlỈ berpendapat bahwa tujuan pendidikan
ialah kesempurnaan insane di dunia dan di akhirat. Manusia dapat mencapai
kesempurnaan melalui pencarian keutamaan dengan menggunakan ilmu. Keutamaan itu
akan memberinya kebahagiaan di dunia serta mendekatkannya kepada Allah,
sehingga dia akan mendapatkan pula kebahagiaan di akhirat.
d.
Muhammad
Munir Mursa mengemukakan bahwa tujuan terpenting pendidikan islam ialah
tercapainya kesempurnaan insane, karena islam sendiri merupakan manifestasi
tercapainya kesempurnaan agamawi, sebagaimana ditegaskan di dalam firman Allah
berikut ini:
“Pada hari ini telah
Kusempurnakan untuk akmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan
telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu. (Q.S. Al-Maidah:3)
e.
Muhammad
‘Athiyah al-Abrasyi berpendapat bahwa tujuan tertinggi pendidikan islam akhlak
yang sempurna atau keutamaan.
f.
Menurut
pendapat Abdul Fattah Jalal, tujuan akhir pendidikan islam ialah menjadikan
manusia sebagai abdi atau hamba Allah swt. pendapat ini dikemukakan juga oleh
‘Abdurrahman An-Nahlawi.[10]
KESIMPULAN
Tujuan pendidikan adalah batas akhir
yang dicita-citakan dan tercapai melalui suatu usaha pendidikan. Tujuan
pendidikan ditentukan oleh pendidik sebagai orang yang mengarahkan proses
pendidikan. Karenanya, tujuan pendidikan berkaitan erat dengan nilai – nilai
yang dijunjung tinggi oleh pendidik di dalam hidupnya
Dr. M. Nasir Budiman mengklasifikasikan tujuan pendidikan Islam
dilihat dari segi komponennya menjadi tiga macam, yaitu: tujuan Normatif,
tujuan Fungsional, dan tujuan Operasional.
Adapun Abdurrahman Saleh Abdullah, dalam buku Educational Theory
A qur’anic Outlook, menyatakan bahwa tujuan pendidikan islam dapat
diklasifikasikan menjadi empat macam, yaitu: Tujuan pendidikan jasmani (ahdaf
al-jismiyah), Tujuan pendidikan rohani (ahdaf ar- Ruhaniyyah), Tujuan
pendidikan akal (ahdaf al- ‘aqliyyah), Tujuan pendidikan sosial (ahdaf
al-ijtima ‘iyyah)
DAFTAR PUSTKA
Abdullah, Abd. Rahman, 2002, Aktualisasi Konsep Dasar Pendidikan Islam,
Jogjakarta: UII Press.
Arifin,
M, 1996, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.
Sabran, Dja’far
Risalah Do’a, Bandung: P.P.,, Assegaff
Noer
Aly, Hery, 1999, Ilmu Pendidikan
Islam, Jakarta: Logos.
Uhbiyati,
Nur, 1999, Ilmu Pendidikan Islam II, Bandung: CV. Pustaka Setia.
Wjidi Sayadi,
2011, Hadits Tarbawi, Jakarta: PT.Pustaka Firdaus.
[1]
Dja’far Sabran, Risalah Do’a, (Bandung: P.P.,, Assegaff. Tanpa tahun)
hlm. 177.
[2]
Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999) hlm.51
[3]
Ibid., h.53
[4]
Ibid., h. 55
[5]
Abd. Rahman Abdullah, Aktualisasi Konsep Dasar Pendidikan Islam,
(Jogjakarta: UII Press, 2002) hlm. 43 - 44
[6]
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996) hlm.
38-39
[7]
Wjidi Sayadi, Hadits Tarbawi, ( Jakarta: PT.Pustaka Firdaus, 2011)
hlm17-19
[8]
Ibid., h.20
[9]
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam II, (Bandung: CV. Pustaka Setia,
1999) hlm.51
[10]
Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999) hlm.76-78